WeCreativez WhatsApp Support
HERUMINDSET status is ONLINE
(Anda Terhubung Dengan \"Ibu Yulizar\")
Pengobatan Gangguan Kepribadian

Pengobatan Gangguan Kepribadian

Cara utama dalam menangani gangguan kepribadian adalah melalui terapi psikologis atau kejiwaan di bawah bimbingan psikiater. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam mengendalikan emosi serta pikirannya secara lebih baik. Umumnya terapi ini dilakukan setidaknya selama enam bulan, namun durasinya bisa lebih panjang jika kondisi kejiwaan pasien cukup parah.

Terapi psikologis terdiri dari tiga jenis, yaitu:

  • Terapi perilaku kognitif. Terapi ini bertujuan mengubah cara berpikir dan perilaku pasien ke arah yang positif. Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa perilaku seseorang merupakan wujud dari pikirannya. Artinya, jika seseorang berpikiran negatif, maka perilakunya pun akan negatif, begitu pun sebaliknya.
  • Terapi psikodinamik. Terapi ini bertujuan mengeksplorasi dan membenahi segala bentuk penyimpangan pasien yang telah ada sejak masa kanak-kanak. Kondisi semacam ini terbentuk akibat pengalaman-pengalaman negatif yang dialami pasien di masa lalu.
  • Terapi interpersonal. Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh interaksi mereka dengan orang lain. Artinya, jika interaksi tersebut bermasalah, maka gejala-gejala gangguan kepribadian bisa terbentuk. Karena itulah terapi ini bertujuan untuk membenahi segala masalah yang terjadi di dalam interaksi sosial pasien.

Selain terapi psikologis, dokter bisa memberikan obat-obatan kepada pasien. Namun, penggunaan obat hanya disarankan apabila gejala-gejala yang terkait dengan gangguan kepribadian sudah memasuki tingkat menengah atau parah. Sejumlah obat yang mungkin dipakai adalah obat-obatan penstabil suasana hati dan obat penghambat pelepasan serotonin (antidepresan).

Penyebab Gangguan Kepribadian

Penyebab Gangguan Kepribadian

Kasus gangguan kepribadian umumnya dimulai pada usia remaja dan saat memasuki usia dewasa. Ada beberapa faktor yang diduga dapat memicu atau meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, di antaranya:

  • Adanya kelainan pada struktur atau komposisi kimia di dalam otak.
  • Adanya riwayat gangguan kepribadian atau penyakit mental dalam keluarga.
  • Menghabiskan masa kecil di dalam kehidupan keluarga yang kacau.
  • Perasaan sering diabaikan sejak masa kanak-kanak.
  • Mengalami pelecehan sejak kanak-kanak, baik verbal maupun fisik.
  • Tingkat pendidikan yang rendah.
  • Hidup di tengah-tengah keluarga berekonomi sulit.

Sebagian besar para ahli berpendapat bahwa gangguan kepribadian disebabkan oleh kombinasi dari situasi-situasi di lingkungan dengan faktor keturunan. Gen yang diwariskan dari orang tua sangat berpengaruh pada gangguan kepribadian, sedangkan lingkungan berpotensi memicu perkembangan gangguan tersebut.

Gejala Gangguan Kepribadian

Gejala Gangguan Kepribadian

Berdasarkan jenisnya, gangguan kepribadian dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama adalah gangguan kepribadian kelompok A. Seseorang dengan gangguan kepribadian kelompok ini biasanya memiliki pemikiran dan perilaku yang aneh. Jenis-jenis gangguan kepribadian kelompok A terdiri dari:

  • Gangguan kepribadian skizotipal. Selain tingkah laku yang aneh dan cara bicara mereka yang tidak wajar, penderita gangguan kepribadian jenis ini kerap terlihat cemas atau tidak nyaman dalam situasi sosial. Penderita juga kerap berkhayal, misalnya percaya bahwa dirinya memiliki kekuatan telepati yang mampu memengaruhi emosi dan tingkah laku orang lain atau percaya bahwa suatu tulisan di koran adalah sebuah pesan tersembunyi bagi mereka.
  • Gangguan kepribadian skizoid. Ciri utama penderita gangguan kepribadian jenis ini adalah sifat yang dingin. Mereka seperti sukar menikmati momen apa pun, tidak bergeming saat dikritik atau dipuji, dan tidak tertarik menjalin hubungan pertemanan dengan siapa pun, bahkan dengan lawan jenis. Mereka cenderung penyendiri dan menghindari interaksi sosial.
  • Gangguan kepribadian paranoid. Ciri-ciri utama gangguan kepribadian jenis ini adalah kecurigaan dan ketidakpercayaan terhadap orang lain secara berlebihan, termasuk pada pasangan mereka. Mereka selalu takut bahwa orang lain akan memanipulasi atau merugikan mereka, dan mereka takut pasangan mereka akan berkhianat.

Kedua adalah gangguan kepribadian kelompok B. Ciri-cirinya adalah pola pikir dan perilaku yang tidak bisa diprediksi, serta emosi yang berlebihan dan dramatis. Jenis-jenis gangguan kepribadian kelompok B terdiri dari:

  • Gangguan kepribadian ambang (borderline). Orang yang menderita kondisi ini biasanya memiliki emosi yang tidak stabil dan memiliki dorongan untuk menyakiti diri sendiri, misalnya dengan meminum banyak alkohol atau melakukan seks bebas. Penderita gangguan ini juga merasa kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain. Mereka merasa tidak dianggap baik dalam lingkungan keluarga maupun di masyarakat.
  • Gangguan kepribadian antisosial. Orang yang menderita kondisi ini kerap mengabaikan norma sosial yang berlaku dan tidak memiliki rasa simpati terhadap orang lain. Penderita cenderung menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka gemar mengintimidasi orang lain dan tidak menyesali perbuatan mereka. Mereka juga tidak mampu mengendalikan amarah dan mempertahankan hubungan.
  • Gangguan kepribadian narsistik. Orang yang menderita kondisi ini merasa yakin bahwa dirinya lebih istimewa dibandingkan orang lain. Mereka cenderung arogan dan terus-menerus mengharapkan pujian dari orang lain. Mereka akan membanggakan dan melebih-lebihkan prestasi yang dicapai. Ketika merasa ada orang lain yang lebih unggul daripada mereka, penderita gangguan kepribadian narsistik akan merasa sangat iri.
  • Gangguan kepribadian histrionik. Orang yang menderita kondisi ini biasanya terlalu mencemaskan penampilan, cenderung dramatis dalam berbicara, dan selalu mencari perhatian. Apabila menjalin hubungan pertemanan, penderita gangguan ini akan menganggap hubungan pertemanan tersebut sangat erat, meskipun orang lain menganggapnya tidak.

Ketiga adalah gangguan kepribadian kelompok C. Meski ciri-ciri tiap gangguan yang masuk dalam kelompok ini berbeda-beda, ada satu komponen yang sama, yaitu rasa cemas dan ketakutan. Gangguan kepribadian kelompok C terdiri dari:

  • Gangguan kepribadian dependen. Penderita kondisi ini akan merasa sangat tergantung pada orang lain dalam hal apa pun. Mereka tidak bisa hidup mandiri dan selalu diliputi rasa takut akan ditinggalkan orang lain. Saat mereka sedang sendiri, mereka akan merasa tidak nyaman dan tidak berdaya. Akibat ketergantungan yang berlebihan ini, penderita gangguan kepribadian dependen tidak akan bisa membuat keputusan dan mengemban tanggung jawab sendiri tanpa petunjuk dan bantuan orang lain.
  • Gangguan kepribadian menghindar. Penderita kondisi ini sering menghindari kontak sosial, terutama dalam kegiatan baru yang melibatkan orang asing. Tidak sama seperti gangguan kepribadian skizoid, penghindaran ini dilakukan penderita karena mereka malu dan tidak percaya diri. Sebenarnya mereka ingin sekali menjalin hubungan dekat, namun mereka merasa tidak pantas berbaur dan khawatir mengalami penolakan.
  • Gangguan kepribadian obsesif kompulsif. Orang yang mengalami kondisi ini bisa dikatakan “gila kendali”. Mereka sulit untuk bisa bekerja sama dengan orang lain dan lebih memilih untuk mengatur atau menyelesaikan tugasnya sendiri. Karena kepribadian mereka yang perfeksionis, sering kali mereka stres apabila hasil pekerjaan tidak sesuai dengan standar mereka yang tinggi.
Penyebab Fobia Sosial

Penyebab Fobia Sosial

Kebanyakan orang mungkin bisa mengatasi rasa takut yang dialaminya. Namun, pada sebagian lainnya, rasa takut akan menimbulkan gejala fisik dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Itulah sebabnya, kamu perlu waspada jika memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap objek tertentu.

Penyebab Fobia Sosial

Fobia sosial atau social anxiety disorder bisa dipicu oleh situasi yang baru atau hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, misalnya presentasi di depan umum atau menyampaikan pidato. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, kondisi ini diduga terkait dengan beberapa faktor berikut:

  • Peristiwa masa lalu
    Fobia sosial bisa jadi muncul karena penderita pernah mengalami peristiwa memalukan atau tidak menyenangkan, yang disaksikan oleh orang lain.
  • Keturunan atau pola asuh
    Fobia sosial cenderung diturunkan dalam keluarga. Namun demikian, belum bisa dipastikan apakah hal ini dipicu oleh faktor genetik atau karena pola asuh orang tua, misalnya terlalu mengekang. Kemungkinan lainnya adalah anak meniru sikap orang tua yang kerap merasa cemas saat berhadapan dengan orang lain.
  • Struktur otak
    Rasa takut sangat dipengaruhi oleh bagian otak yang disebut amygdalaAmygdala yang terlalu aktif akan membuat seseorang mengalami rasa takut yang lebih kuat. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko munculnya kecemasan secara berlebihan saat berinteraksi dengan orang lain.

Selain beberapa faktor di atas, memiliki kondisi tubuh atau penyakit tertentu, misalnya luka parut di wajah atau kelumpuhan akibat polio, dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita fobia sosial.

Diagnosis Fobia Sosial

Dokter dapat menentukan seseorang mengalami fobia sosial melalui gejala yang dialaminya. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, bila gejala-gejala tersebut menyebabkan gangguan secara fisik, misalnya jantung berdebar atau sesak napas. Selain itu, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti tes rekam jantung, bila diperlukan.

Terapi Fobia Sosial

Untuk mengatasi fobia sosial, psikiater dapat menggunakan 2 metode, psikoterapi dan pemberian obat-obatan yang dijelaskan di bawah ini:

  • Psikoterapi
    Salah satu bentuk psikoterapi untuk mengatasi fobia sosial adalah terapi perilaku kognitif. Terapi ini bertujuan untuk mengurangi rasa cemas pada penderita. Penderita akan dihadapkan pada situasi yang membuatnya cemas atau takut, kemudian psikolog atau psikiater akan memberikan solusi untuk menghadapi situasi tersebut.
    Seiring waktu, diharapkan rasa percaya diri penderita akan meningkat untuk menghadapi situasi ini, meskipun tanpa pendampingan.
    Terapi perilaku kognitif berlangsung selama 12 minggu, bisa dilakukan hanya berdua dengan psikiater atau secara berkelompok bersama pasien fobia sosial yang lain.
    Psikiater juga akan memberikan pemahaman kepada keluarga penderita mengenai gangguan ini, agar dapat memberikan dukungan kepada penderita untuk sembuh.
  • Obat-obatan
    Beberapa jenis obat juga dapat digunakan untuk mengatasi fobia sosial. Psikiater akan memberikan obat dalam dosis ringan terlebih dahulu, kemudian ditingkatkan secara bertahap. Sejumlah obat yang digunakan untuk fobia sosial adalah:
    Obat anticemas atau antiansietas
    Obat seperti benzodiazepine dapat mengurangi kecemasan dengan cepat. Meski demikian, obat ini biasanya hanya digunakan dalam jangka pendek karena dapat menyebabkan kecanduan.
    Obat antidepresan
    Selain mengatasi depresi, obat antidepresan juga dapat digunakan untuk mengatasi fobia sosial. Berbeda dengan obat anticemas, obat antidepresan, seperti fluoxetine, tidak dapat bekerja dengan cepat dan digunakan untuk jangka waktu yang lama.
    Obat penghambat beta
    Obat ini bertujuan mengatasi gejala fisik yang muncul akibat rasa takut atau cemas, yaitu jantung berdebar. Obat yang digunakan antara lain adalah bisoprolol.

Hasil pengobatan untuk mengatasi fobia sosial tidak selalu dapat segera terlihat. Terkadang, penderita bahkan perlu mengonsumsi obat selama bertahun-tahun untuk mencegah kekambuhan. Agar hasilnya optimal, lakukan pengobatan sesuai anjuran dokter dan rutin berdiskusi dengan dokter mengenai perkembangan kondisi penyakit.

Komplikasi Fobia Sosial

Apabila tidak ditangani, fobia sosial akan menyebabkan penderitanya:

  • Merasa rendah diri
  • Tidak dapat berinteraksi dengan orang lain
  • Tidak mampu bersikap tegas
  • Sangat sensitif pada kritikan

Kondisi seperti ini akan mengganggu prestasi dan produktivitas penderita, baik di sekolah maupun tempat kerja. Lebih parahnya, penderita dapat jatuh ke dalam kondisi kecanduan alkohol, penyalahgunaan NAPZA, hingga percobaan bunuh diri.

Pencegahan Percobaan Bunuh Diri

Pencegahan Percobaan Bunuh Diri

Data global menunjukkan setiap tahunnya lebih dari 800 ribu orang meninggal dunia karena bunuh diri atau setara dengan satu kematian setiap 40 detik. Untuk mencegah bunuh diri, Agung menyebut setiap orang mesti mengetahui gejala depresi. Gejala depresi dapat dilihat melalui perubahan pada tiga aspek yakni afek (perubahan perasaan), kognitif, dan fisik.

Gejala depresi pada afek ditandai dengan munculnya rasa sedih berlarut-larut, hilang minat, apatis, anhedonia (tidak merasa puas dan bahagia), tak bertenaga, tidak bersemangat, dan mengisolasi diri.

Pencegahan Percobaan Bunuh Diri

Penting untuk mengetahui faktor risiko serta tanda-tanda percobaan bunuh diri yang muncul pada diri seseorang. Jika Anda mendapati anggota keluarga atau teman memiliki tanda-tanda tersebut, pencegahan yang dapat dilakukan adalah:

  • Mendengarkan dengan seksama sekaligus mempelajari apa yang dia pikirkan dan rasakan.
  • Membantu dia dalam mengatasi depresi yang dialami.
  • Jangan ragu untuk menanyakan padanya tentang adanya keinginan untuk bunuh diri.
  • Jangan ragu untuk mengekspresikan rasa sayang, baik dalam bentuk perbuatan maupun kata-kata.
  • Jangan mengabaikan perasaan dia terhadap suatu hal, meski hal itu sepele atau mudah untuk diselesaikan.
  • Sebisa mungkin jauhkan barang-barang yang dapat digunakan untuk bunuh diri, misalnya senjata api.

Jika Anda khawatir bahwa cara di atas masih belum cukup untuk bisa mencegah upaya bunuh diri, maka Anda bisa membawa dia ke psikiater. Metode medis yang mungkin disarankan oleh psikiater adalah:

  • Psikoterapi, salah satunya adalah terapi perilaku kognitif. Terapi ini akan melatih pasien dalam menangani stres yang dapat memicu keinginan untuk bunuh diri.
  • Pemberian obat. Obat golongan antipsikotik, seperti clozapine, sering diberikan pada pasien skizofrenia untuk menekan risiko munculnya keinginan untuk bunuh diri.

Hubungi Kami

Layanan Berkualitas Yang Anda Terima Akan Kami kemas ke dalam Terapi Klinis Hipnoterapi, NLP, EFT, Ditambah Konsultasi Psikologi, Yang Pada Akhirnya Menjadi All in One Solution   Hipnoterapi Jakarta  Yang berkualitas, yang akan membuat anda Tidak Perlu kemana-mana lagi.

Butuh Info Lebih Detail?