WeCreativez WhatsApp Support
HERUMINDSET status is ONLINE
(Anda Terhubung Dengan \"Ibu Yulizar\")
Penyebab Gangguan Kepribadian

Penyebab Gangguan Kepribadian

Kasus gangguan kepribadian umumnya dimulai pada usia remaja dan saat memasuki usia dewasa. Ada beberapa faktor yang diduga dapat memicu atau meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, di antaranya:

  • Adanya kelainan pada struktur atau komposisi kimia di dalam otak.
  • Adanya riwayat gangguan kepribadian atau penyakit mental dalam keluarga.
  • Menghabiskan masa kecil di dalam kehidupan keluarga yang kacau.
  • Perasaan sering diabaikan sejak masa kanak-kanak.
  • Mengalami pelecehan sejak kanak-kanak, baik verbal maupun fisik.
  • Tingkat pendidikan yang rendah.
  • Hidup di tengah-tengah keluarga berekonomi sulit.

Sebagian besar para ahli berpendapat bahwa gangguan kepribadian disebabkan oleh kombinasi dari situasi-situasi di lingkungan dengan faktor keturunan. Gen yang diwariskan dari orang tua sangat berpengaruh pada gangguan kepribadian, sedangkan lingkungan berpotensi memicu perkembangan gangguan tersebut.

Gejala Gangguan Kepribadian

Gejala Gangguan Kepribadian

Berdasarkan jenisnya, gangguan kepribadian dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama adalah gangguan kepribadian kelompok A. Seseorang dengan gangguan kepribadian kelompok ini biasanya memiliki pemikiran dan perilaku yang aneh. Jenis-jenis gangguan kepribadian kelompok A terdiri dari:

  • Gangguan kepribadian skizotipal. Selain tingkah laku yang aneh dan cara bicara mereka yang tidak wajar, penderita gangguan kepribadian jenis ini kerap terlihat cemas atau tidak nyaman dalam situasi sosial. Penderita juga kerap berkhayal, misalnya percaya bahwa dirinya memiliki kekuatan telepati yang mampu memengaruhi emosi dan tingkah laku orang lain atau percaya bahwa suatu tulisan di koran adalah sebuah pesan tersembunyi bagi mereka.
  • Gangguan kepribadian skizoid. Ciri utama penderita gangguan kepribadian jenis ini adalah sifat yang dingin. Mereka seperti sukar menikmati momen apa pun, tidak bergeming saat dikritik atau dipuji, dan tidak tertarik menjalin hubungan pertemanan dengan siapa pun, bahkan dengan lawan jenis. Mereka cenderung penyendiri dan menghindari interaksi sosial.
  • Gangguan kepribadian paranoid. Ciri-ciri utama gangguan kepribadian jenis ini adalah kecurigaan dan ketidakpercayaan terhadap orang lain secara berlebihan, termasuk pada pasangan mereka. Mereka selalu takut bahwa orang lain akan memanipulasi atau merugikan mereka, dan mereka takut pasangan mereka akan berkhianat.

Kedua adalah gangguan kepribadian kelompok B. Ciri-cirinya adalah pola pikir dan perilaku yang tidak bisa diprediksi, serta emosi yang berlebihan dan dramatis. Jenis-jenis gangguan kepribadian kelompok B terdiri dari:

  • Gangguan kepribadian ambang (borderline). Orang yang menderita kondisi ini biasanya memiliki emosi yang tidak stabil dan memiliki dorongan untuk menyakiti diri sendiri, misalnya dengan meminum banyak alkohol atau melakukan seks bebas. Penderita gangguan ini juga merasa kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain. Mereka merasa tidak dianggap baik dalam lingkungan keluarga maupun di masyarakat.
  • Gangguan kepribadian antisosial. Orang yang menderita kondisi ini kerap mengabaikan norma sosial yang berlaku dan tidak memiliki rasa simpati terhadap orang lain. Penderita cenderung menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka gemar mengintimidasi orang lain dan tidak menyesali perbuatan mereka. Mereka juga tidak mampu mengendalikan amarah dan mempertahankan hubungan.
  • Gangguan kepribadian narsistik. Orang yang menderita kondisi ini merasa yakin bahwa dirinya lebih istimewa dibandingkan orang lain. Mereka cenderung arogan dan terus-menerus mengharapkan pujian dari orang lain. Mereka akan membanggakan dan melebih-lebihkan prestasi yang dicapai. Ketika merasa ada orang lain yang lebih unggul daripada mereka, penderita gangguan kepribadian narsistik akan merasa sangat iri.
  • Gangguan kepribadian histrionik. Orang yang menderita kondisi ini biasanya terlalu mencemaskan penampilan, cenderung dramatis dalam berbicara, dan selalu mencari perhatian. Apabila menjalin hubungan pertemanan, penderita gangguan ini akan menganggap hubungan pertemanan tersebut sangat erat, meskipun orang lain menganggapnya tidak.

Ketiga adalah gangguan kepribadian kelompok C. Meski ciri-ciri tiap gangguan yang masuk dalam kelompok ini berbeda-beda, ada satu komponen yang sama, yaitu rasa cemas dan ketakutan. Gangguan kepribadian kelompok C terdiri dari:

  • Gangguan kepribadian dependen. Penderita kondisi ini akan merasa sangat tergantung pada orang lain dalam hal apa pun. Mereka tidak bisa hidup mandiri dan selalu diliputi rasa takut akan ditinggalkan orang lain. Saat mereka sedang sendiri, mereka akan merasa tidak nyaman dan tidak berdaya. Akibat ketergantungan yang berlebihan ini, penderita gangguan kepribadian dependen tidak akan bisa membuat keputusan dan mengemban tanggung jawab sendiri tanpa petunjuk dan bantuan orang lain.
  • Gangguan kepribadian menghindar. Penderita kondisi ini sering menghindari kontak sosial, terutama dalam kegiatan baru yang melibatkan orang asing. Tidak sama seperti gangguan kepribadian skizoid, penghindaran ini dilakukan penderita karena mereka malu dan tidak percaya diri. Sebenarnya mereka ingin sekali menjalin hubungan dekat, namun mereka merasa tidak pantas berbaur dan khawatir mengalami penolakan.
  • Gangguan kepribadian obsesif kompulsif. Orang yang mengalami kondisi ini bisa dikatakan “gila kendali”. Mereka sulit untuk bisa bekerja sama dengan orang lain dan lebih memilih untuk mengatur atau menyelesaikan tugasnya sendiri. Karena kepribadian mereka yang perfeksionis, sering kali mereka stres apabila hasil pekerjaan tidak sesuai dengan standar mereka yang tinggi.
Gangguan Kepribadian

Gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian adalah suatu kondisi yang menyebabkan penderitanya memiliki pola pikir dan perilaku yang tidak sehat dan berbeda dari orang normal. Selain pola pikir yang tidak sehat, kondisi yang dikategorikan sebagai penyakit mental ini juga bisa membuat penderitanya sulit untuk merasakan, memahami, atau berinteraksi dengan orang lain.

Ini juga bisa mengganggu bagi anak dalam proses menerima pelajaran. Dampak yang paling utama terlihat adalah si anak sulit untuk berinteraksi sama temannya, sulit memahami pelajaran dan sulit untuk di fahami. Kecenderungan memiliki fantasi ataupun delusi (suka menyakini  hal yang aneh – aneh). Mengenali sejak dini lebih baik sebelum semakin lama di biarkan, karena proses pengobatan nya akan semakin sulit jika di biarkan.

Gangguan kepribadian dalam diri si anak juga bisa menyebabkan masalah dalam lingkungan sosial. Tidak jarang hubungan antara penderita gangguan kepribadian dengan orang lain di lingkungan rumah, sekolah menjadi terbatas.

Penderita gangguan kepribadian bisa dikenali dengan beberapa ciri-ciri berikut:

  • Berperilaku aneh.
  • Mengurung diri atau menghindari interaksi sosial.
  • Sulit menjalin hubungan dekat dengan orang lain.
  • Kesulitan mengendalikan pikiran dan sering berprasangka buruk.

Cara terbaik mengenali si anak mengalami gangguan kepribadian adalah komunikasi intens antara orang tua dan anak. Kenali anak anda lebih dari guru mengenali anak anda. Komunikasi 2 (dua) arah akan memberikan dampak baik bagi hubungan anda dan anak anda, selain membangun komunikasi yang Searah.

Namun Jika si anak memiliki ciri – ciri di atas, jangan terlalu panik, bisa di tangani dengan melakukan terapi psikologis, Hubungi Kami jika ada pertanyaan atau Konsultasi soal gangguan kepribadian.

Proses Penyembuhan OCD

Proses Penyembuhan OCD

Beberapa waktu lalu kita membahas gejala secara umum OCD dan sekarang kita ingin membahas, Apa saja pilihan pengobatan untuk obsessive compulsive disorder (OCD)? Gangguan obsesif kompulsif dapat diobati dengan melakukan kombinasi terapi dan terapi perilaku kognitif.

Pemberian Obat

Dokter mungkin akan memberi resep obat untuk mengontrol obsesi mental dan perilaku kompulsif. Biasanya, antidepresan atau obat pengurang stress adalah pilihan pertama, di antaranya:

  • Clomipramine (Anafranil);
  • Fluvoxamine (Luvox CR);
  • Fluoxetine (Prozac);
  • Paroxetine (Paxil, Pexeva);
  • Sertraline (Zoloft).

Terapi Perilaku Kognitif

Jika Anda sering memiliki pikiran negatif, ini bisa membuat Anda menderita gangguan mental  dalam jangka panjang. Terapi kognitif dapat membantu Anda untuk menemukan kebiasaan bawah sadar yang menyebabkan pikiran itu terjadi. Selanjutnya terapi tersebut akan menuntun Anda untuk menemukan kebiasaan lain yang dapat digunakan untuk menghindari pikiran negatif tersebut. Saat cara berpikir Anda sudah berubah lebih baik, kemungkinan gejala penyakit OCD sudah teratasi.

Apa Saja Tes Umum yang Biasa Dilakukan Untuk Mendeteksi Obsessive Compulsive Disorder (OCD) ?

Dokter biasanya mengdiagnosis penyakit OCD berdasarkan gejala yang Anda jelaskan. Mereka akan melakukan pemeriksaan klinis untuk mengurangi penyebab gejala tersebut. Dokter juga mungkin akan melakukan evaluasi psikologis melalui metode penilaian psikologis, seperti menilai status mental pasien melalui penampilan, sikap, pemikiran, mood, ketakutan, halusinasi, kecanduan penyalahgunaan obat, dan kemungkinan melakukan kekerasan atau bahkan bunuh diri.

Pengobatan di Rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi obsessive compulsive disorder (OCD)? Gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda untuk mengatasi gangguan obsesif kompulsif di antaranya:

  • bicarakan pada dokter Anda jika gejala semakin kuat atau bertambah buruk setelah penanganan dalam waktu tertentu
  • bicarakan pada dokter Anda jika terdapat gejala baru atau Anda merasa tidak nyaman saat mengonsumsi obat yang diberikan
  • lakukan olahraga ringan
  • minum obat yang telah diberikan oleh dokter meskipun Anda sudah merasa lebih baik. Berhenti mengonsumsi obat dapat mengembalikan gejala gangguan obsesif kompulsif
Gejala OCD Secara Umum

Gejala OCD Secara Umum

Jika beberapa waktu lalu anda sudah membaca artikel kami yang membahas khusus OCD, ini adalah kelanjutan dari pembahasan OCD secara umum. Gejala OCD meliputi pikiran yang mengganggu dan timbul terus menerus (obsesif), serta perilaku yang dilakukan berulang-ulang (kompulsif). Namun, beberapa penderita OCD hanya mengalami pikiran obsesif tanpa disertai perilaku kompulsif, atau sebaliknya.

Pikiran dan perilaku ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, dan hubungan sosial penderita, baik disadari maupun tidak.

Pikiran Obsesif

Obsesif adalah gangguan pikiran yang terjadi terus menerus dan menimbulkan rasa cemas atau takut. Semua orang kadang mengalami hal ini, tetapi pada penderita OCD, pikiran tersebut muncul berulang-ulang dan menetap. Pikiran obsesif bisa tiba-tiba muncul ketika penderita OCD sedang memikirkan atau melakukan hal lain.

Beberapa pikiran obsesif antara lain:

  • Takut kotor atau terkena penyakit, misalnya menghindari bersalaman dengan orang lain atau menyentuh benda yang disentuh banyak orang.
  • Sangat menginginkan segala sesuatu tersusun selaras atau teratur dan tidak senang bila melihat sekumpulan benda menghadap ke arah yang berbeda.
  • Takut melakukan sesuatu yang bisa berdampak buruk pada diri sendiri dan orang lain, misalnya merasa ragu apakah sudah mematikan kompor atau mengunci pintu.

Hipnoterapi Kesehatan | Konsultasi Psikologi | Terapi Depresi

Perilaku Kompulsif

Kompulsif adalah perilaku yang dilakukan berulang-ulang, guna mengurangi rasa cemas atau takut akibat pikiran obsesif. Perasaan lega sesaat bisa muncul setelah melakukan perilaku kompulsif, namun kemudian gejala obsesif akan muncul kembali dan membuat penderita mengulangi perilaku kompulsif.

Penderita OCD bisa saja menyadari bahwa perilaku yang mereka lakukan berlebihan. Akan tetapi, mereka merasa harus melakukannya dan tidak dapat menghentikannya.

Gejala perilaku kompulsif meliputi:

  • Mencuci tangan berkali-kali sampai lecet.
  • Menyusun benda menghadap ke arah yang sama.
  • Memeriksa berulang kali apakah sudah mematikan kompor atau mengunci pintu.

Gejala gangguan obsesif kompulsif sering kali menyerang di awal usia dewasa dan cenderung memburuk seiring usia penderita bertambah. Selain memburuk seiring bertambahnya usia, gejala OCD juga semakin parah bila penderita mengalami stres.

Kapan Harus ke Psikiater atau Terapis atau Hipnoterapi

Tidak semua pikiran atau perilaku yang menimbulkan rasa cemas dikategorikan sebagai obsesif kompulsif. Wajar ketika kadang-kadang seseorang melakukan cek ulang terhadap suatu tindakan yang sudah dilakukan. Pikiran dan perilaku tersebut dianggap tidak wajar bila:

  • Paling tidak dalam 1 hari menghabiskan waktu 1 jam untuk memikirkan atau melakukan tindakan tersebut.
  • Tidak mendapatkan kesenangan dari perilakunya, tetapi hanya rasa lega yang bertahan sementara.
  • Tidak dapat mengendalikannya, meskipun menyadari pikiran atau perilaku tersebut sudah berlebihan.
  • Perilaku dan perbuatan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Segera periksakan diri ke psikiater atau terapis atau hipnoterapi apabila sudah mengalami kondisi seperti ini. Jika tidak segera ditangani, OCD bisa berlangsung bertahun-tahun dan menyebabkan depresi. Pada tingkatan yang parah, depresi dapat mendorong penderitanya untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Mengenal Anxiety

Mengenal Anxiety

Kecemasan atau anxiety adalah reaksi seseorang terhadap stres yang memiliki gejala psikologis dan fisik. Perasaan tersebut muncul dari amigdala, yakni wilayah otak yang mengatur respons emosional yang kuat. Stres dan anxiety yang tidak terkendali dapat menjadi tidak sehat, baik secara fisik maupun psikologis. Jika Anda mengalami anxiety, penting untuk segera mencari pertolongan.

Anxiety atau kecemasan adalah respons alami tubuh seseorang terhadap stres. Hal ini dapat muncul sebagai perasaan khawatir atau justru takut pada apa yang akan terjadi nanti. Tapi tidak semua orang merasakan cemas apabila menghadapi situasi tersebut. Cemas adalah perasaan yang normal apabila masih dapat terkendali dan hilang setelah faktor pencetus teratasi. Jika perasaan cemas menetap dan menimbulkan gangguan dalam aktivitas sehari-hari maka kondisi tersebut dapat dikatakan sebagai gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Gejala yang Ditimbulkan Anxiety

Terapi Depresi, Hipnoterapi Kesehatan, Konsultasi psikologi, Hipnoterapi

Setiap orang memiliki perasaan cemas di suatu titik dalam kehidupan mereka. Anxiety adalah perasaan takut, khawatir, atau perasaan tidak menyenangkan terhadap sesuatu. Hal ini bisa menjadi reaksi terhadap stres atau pada orang yang tidak mampu mengenali pemicu stres dalam kehidupan mereka. Beberapa penyebab stres dan kecemasan yakni perpindahan tempat, memulai sekolah atau pekerjaan baru, menderita cedera atau penyakit, memiliki teman atau anggota keluarga yang sakit, kematian anggota keluarga atau teman, menikah, dan memiliki bayi. Stres atau cemas karena kondisi-kondisi tertentu belum tentu menandakan bahwa Anda menderita gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan muncul apabila setelah faktor penyebab yang mencetuskan rasa cemas tersebut hilang namun Anda masih terus merasa cemas, atau kecemasan yang dirasakan sangat mengganggu aktivitas Anda sehari-hari sehingga menimbulkan kesulitan dalam bekerja, sekolah, atau menjalani hari Anda.

Stres dan anxiety tidak selalu buruk. Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat membantu mengatasi tantangan atau situasi tertentu. Misalnya, mengkhawatirkan untuk mendapatkan pekerjaan, merasa gugup sebelum ujian besar, atau merasa malu dalam situasi sosial tertentu. Jika Anda tidak mengalami kecemasan atau anxiety, Anda mungkin tidak termotivasi untuk melakukan hal-hal yang perlu dilakukan, misalnya belajar untuk menghadapi ujian besar atau mawas diri dengan kekurangan yang selama ini mungkin terdapat dalam diri Anda.

Sebagian orang merasa cemas dari waktu ke waktu. Namun, kecemasan atau anxiety bisa menjadi tidak normal jika mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa gejala yang ditimbulkan dari kecemasan yang mengganggu ini meliputi denyut jantung yang cepat, jantung berdebar-debar (palpitasi), mual, gemetar, sulit berkonsentrasi, berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala, sulit atau tidak bisa tidur, dan bernapas cepat.  Kecemasan bisa menjadi tidak normal, jika kondisi ini muncul tanpa alasan yang jelas saat tidak ada situasi yang penuh tekanan.

ref.
NHS Choices UK (2016). Generalised anxiety disorder in adults.
Knott, L. Patient (2017). Anxiety.
Medina, J. Psych Central (2017). Panic Disorder Symptoms
Healthline (2017). Stress and Anxiety.
Harvard Health Publishing. Anxiety and physical illness.
Healthline (2016). Anxiety Overview.

Hubungi Kami

Layanan Berkualitas Yang Anda Terima Akan Kami kemas ke dalam Terapi Klinis Hipnoterapi, NLP, EFT, Ditambah Konsultasi Psikologi, Yang Pada Akhirnya Menjadi All in One Solution   Hipnoterapi Jakarta  Yang berkualitas, yang akan membuat anda Tidak Perlu kemana-mana lagi.

Butuh Info Lebih Detail?