WeCreativez WhatsApp Support
HERUMINDSET status is ONLINE
(Anda Terhubung Dengan \"Ibu Yulizar\")
Gejala Percobaan Bunuh Diri

Gejala Percobaan Bunuh Diri

Tindakan bunuh diri sering kali berawal dari depresi yang tak tertangani. Oleh karena itu, penting untuk menangani depresi agar ide dan keinginan, hingga percobaan bunuh diri dapat dicegah. Pencegahan dapat dilakukan dengan lebih peka pada kondisi orang terdekat yang mengalami depresi dan menunjukkan tanda-tanda bunuh diri.

Penyebab seorang individu mencoba melakukan upaya bunuh diri yang terbanyak adalah saat kondisi depresi. Oleh karena itu, masyarakat harus mampu melakukan upaya pencegahan kalau ada anggota keluarga mengalami gejala-gejala depresi,

Gejala Percobaan Bunuh Diri

Seseorang yang akan melakukan percobaan bunuh diri biasanya menunjukkan gerak-gerik yang tidak biasa, seperti:

  • Membuat surat wasiat.
  • Memberikan benda-benda berharganya.
  • Pamit ke kerabat dan keluarga.
  • Menyimpan pil-pil berbahaya atau senjata api.
  • Lebih sering mengonsumsi alkohol atau obat-obatan.
  • Menjauhkan diri dari kerabat atau keluarga.
  • Terlihat cemas atau gelisah.
  • Terjadi perubahan pada kebiasaan makan atau tidur.
  • Menunjukan perubahan suasana hati yang drastis.
  • Berani melakukan sesuatu yang berbahaya, yang bahkan dapat menyebabkan kematian. Misalnya, berkendara dengan sangat cepat.

Selain gerak-gerik, seseorang yang ingin melakukan percobaan bunuh diri juga kerap mencurahkan perasaannya. Dalam hal ini, perasaan yang diungkapkan dapat berupa:

  • Mengungkapkan rasa sakit yang dirasakan, entah itu emosi atau fisik.
  • Berbicara tentang rasa bersalah atau malu.
  • Merasa seperti membebani orang lain.
  • Memperlihatkan amarah atau berbicara tentang balas dendam.
  • Mengungkapkan perasaannya yang sepi, putus asa, dan tidak lagi memiliki alasan untuk hidup.
  • Mengutarakan keinginan untuk mati atau bunuh diri.
  • Sering berpikir atau berbicara tentang kematian.

Psikiater ataupun psikolog akan membantu mencari solusi dan jalan keluar menyelesaikan depresi yang sedang diderita. Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya Herumindset

Gejala OCD Secara Umum

Gejala OCD Secara Umum

Jika beberapa waktu lalu anda sudah membaca artikel kami yang membahas khusus OCD, ini adalah kelanjutan dari pembahasan OCD secara umum. Gejala OCD meliputi pikiran yang mengganggu dan timbul terus menerus (obsesif), serta perilaku yang dilakukan berulang-ulang (kompulsif). Namun, beberapa penderita OCD hanya mengalami pikiran obsesif tanpa disertai perilaku kompulsif, atau sebaliknya.

Pikiran dan perilaku ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, dan hubungan sosial penderita, baik disadari maupun tidak.

Pikiran Obsesif

Obsesif adalah gangguan pikiran yang terjadi terus menerus dan menimbulkan rasa cemas atau takut. Semua orang kadang mengalami hal ini, tetapi pada penderita OCD, pikiran tersebut muncul berulang-ulang dan menetap. Pikiran obsesif bisa tiba-tiba muncul ketika penderita OCD sedang memikirkan atau melakukan hal lain.

Beberapa pikiran obsesif antara lain:

  • Takut kotor atau terkena penyakit, misalnya menghindari bersalaman dengan orang lain atau menyentuh benda yang disentuh banyak orang.
  • Sangat menginginkan segala sesuatu tersusun selaras atau teratur dan tidak senang bila melihat sekumpulan benda menghadap ke arah yang berbeda.
  • Takut melakukan sesuatu yang bisa berdampak buruk pada diri sendiri dan orang lain, misalnya merasa ragu apakah sudah mematikan kompor atau mengunci pintu.

Hipnoterapi Kesehatan | Konsultasi Psikologi | Terapi Depresi

Perilaku Kompulsif

Kompulsif adalah perilaku yang dilakukan berulang-ulang, guna mengurangi rasa cemas atau takut akibat pikiran obsesif. Perasaan lega sesaat bisa muncul setelah melakukan perilaku kompulsif, namun kemudian gejala obsesif akan muncul kembali dan membuat penderita mengulangi perilaku kompulsif.

Penderita OCD bisa saja menyadari bahwa perilaku yang mereka lakukan berlebihan. Akan tetapi, mereka merasa harus melakukannya dan tidak dapat menghentikannya.

Gejala perilaku kompulsif meliputi:

  • Mencuci tangan berkali-kali sampai lecet.
  • Menyusun benda menghadap ke arah yang sama.
  • Memeriksa berulang kali apakah sudah mematikan kompor atau mengunci pintu.

Gejala gangguan obsesif kompulsif sering kali menyerang di awal usia dewasa dan cenderung memburuk seiring usia penderita bertambah. Selain memburuk seiring bertambahnya usia, gejala OCD juga semakin parah bila penderita mengalami stres.

Kapan Harus ke Psikiater atau Terapis atau Hipnoterapi

Tidak semua pikiran atau perilaku yang menimbulkan rasa cemas dikategorikan sebagai obsesif kompulsif. Wajar ketika kadang-kadang seseorang melakukan cek ulang terhadap suatu tindakan yang sudah dilakukan. Pikiran dan perilaku tersebut dianggap tidak wajar bila:

  • Paling tidak dalam 1 hari menghabiskan waktu 1 jam untuk memikirkan atau melakukan tindakan tersebut.
  • Tidak mendapatkan kesenangan dari perilakunya, tetapi hanya rasa lega yang bertahan sementara.
  • Tidak dapat mengendalikannya, meskipun menyadari pikiran atau perilaku tersebut sudah berlebihan.
  • Perilaku dan perbuatan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Segera periksakan diri ke psikiater atau terapis atau hipnoterapi apabila sudah mengalami kondisi seperti ini. Jika tidak segera ditangani, OCD bisa berlangsung bertahun-tahun dan menyebabkan depresi. Pada tingkatan yang parah, depresi dapat mendorong penderitanya untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Penyalahgunaan NAPZA

Penyalahgunaan NAPZA

Penyalahgunaan narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat-zat Adiktif) adalah suatu pola perilaku di mana seseorang menggunakan obat – obatan golongan narkotika, psikotoprika, dan zat aditif yang tidak sesuai fungsinya. Penyalahgunaan NAPZA umumnya terjadi karena adanya rasa ingin tahu yang tinggi, yang kemudian menjadi kebiasaan. Selain itu, penyalahgunaan NAPZA pada diri seseorang juga bisa dipicu oleh masalah dalam hidupnya atau berteman dengan pecandu NAPZA.

Terdapat 4 kelas obat yang paling sering disalahgunakan, yakni:

  • Halusinogen, seperti lysergic acid diethylamide (LSD), phencyclidine dan ecstasy (inex). Efek yang dapat timbul dari penyalahgunaan obat halusinogen beragam, di antaranya adalah halusinasi, tremor, dan mudah berganti emosi.
  • Depresan, seperti diazepam, alprazolam, clonazepam, dan ganja. Efek yang ditimbulkan dari penyalahgunaan obat depresan adalah sensasi rileks dan mengalihkan stres akibat suatu pikiran.
  • Stimulan, seperti dextroamphetamin, kokain, methamphetamine (sabu), dan amphetamin. Efek yang dicari atas penyalahgunaan obat stimulan adalah bertambahnya energi, membuat penggunanya menjadi fokus.
  • Opioid, seperti morfin dan heroin yang sebenarnya adalah obat penahan rasa sakit, namun digunakan untuk menciptakan rasa kesenangan.

Jika tidak dihentikan, penyalahgunaan NAPZA dapat menyebabkan kecanduan. Ketika kecanduan yang dialami juga tidak mendapat penanganan, hal itu berpotensi menyebabkan kematian akibat overdosis.

Terapi Kecanduan Narkoba

Penanganan penyalahgunaan NAPZA, terutama yang sudah mencapai fase kecanduan, akan lebih baik dilakukan segera. Dengan mengajukan rehabilitasi atas kemauan dan kehendak sendiri, pasien yang telah mengalami kecanduan NAPZA tidak akan terjerat tindak pidana.

Jenis Anxiety

Jenis Anxiety

Beberapa waktu lalu kita sudah mengenal Anxiety atau kecemasan adalah respons alami tubuh terhadap stres. Hal ini dapat muncul sebagai perasaan khawatir atau justru takut pada apa yang akan terjadi nanti. Misalnya, tentang hari pertama di sekolah, wawancara kerja, atau saat memberikan pidato yang dapat menyebabkan sebagian orang merasa gugup. Tapi tidak semua orang merasakan cemas apabila menghadapi situasi tersebut.

kali ini, kami mencoba menjelaskan beberapa jenis dari Anxiety atau kecemasan, berikut penjelasannya:

  • Gangguan kecemasan menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder).
    Rasa kekhawatiran yang berlebihan tentang hal-hal yang belum tentu akan terjadi, atau terlalu mengkhawatirkan hal-hal sederhana seperti kesehatan, keselamatan, uang, dan aspek kehidupan sehari-hari lainnya yang berlangsung selama 6 bulan atau lebih. Seringkali disertai nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, mual, sesak napas, dan insomnia. Penderita gangguan ini merasa sulit untuk merasa rileks, selalu merasa tegang atau tidak nyaman, dan sulit atau bahkan tidak bisa berkonsentrasi. Gangguan-gangguan tersebut seringkali tidak diketahui dengan jelas penyebabnya namun kecemasan ini menetap dan mengganggu .
  • Fobia.
    Fobia merupakan bagian dari anxiety yang menyebabkan ketakutan yang tidak rasional terhadap hal-hal atau situasi tertentu, seperti laba-laba, berada di keramaian, berada di ketinggian, atau berada di ruangan tertutup. Ketakutan terhadap situasi atau benda-benda yang umumnya tidak menimbulkan rasa takut bagi kebanyakan orang seperti eskalator, berada di dalam air, naik pesawat, atau terhadap warna atau angka tertentu merupakan tanda gejala fobia. Penderita fobia akan merasa ketakutan atau cemas yang berlebihan jika terpapar pada kondisi atau benda tersebut sehingga tak jarang menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari hanya untuk menghindari hal pencetus fobia tersebut.
  • Gangguan kecemasan sosial.
    Gangguan ini juga disebut fobia sosial. Penderita gangguan ini memiliki kesadaran diri yang luar biasa meningkat dalam pertemuan sosial, karena merasa diawasi dan dinilai oleh orang lain, serta takut merasa malu terutama pada saat berada di keramaian. Hal ini dapat menimbulkan masalah apabila penderitanya bekerja di bidang yang mengharuskannya untuk berbicara di depan umum atau berhadapan dengan khalayak ramai.
  • Gangguan stres pascatrauma (PTSD).
    Gangguan ini dapat muncul pada seseorang yang pernah mengalami kejadian atau berada di situasi berbahaya, tragis, atau traumatis yang dapat mengancam nyawa. Penderita PTSD seringkali merasa takut atau merasa seperti melihat kilas balik pada keadaan yang mencetuskan timbulnya gangguan. Gangguan ini bisa diderita oleh orang yang pernah tinggal di daerah konflik atau perang, terkena bencana alam, atau korban kekerasan. Keadaan yang mencetuskan keluhan ini seringkali muncul dalam ingatan dan kadang dalam bentuk mimpi. Penderita gangguan ini juga tidak jarang mengalami depresi, insomnia, hingga penyalahgunaan obat atau minuman beralkohol untuk mengatasi gangguannya.
  • Gangguan panik.
    Adanya perasaan takut atau panik yang berulang dan tidak beralasan. Disertai dengan detak jantung yang cepat, berkeringat, pusing, dan merasa lemah.  Gangguan ini dapat muncul kapan saja dan mendadak. Orang dengan gangguan panik tidak dapat memprediksi kapan gangguan tersebut akan muncul atau apa pencetusnya. Keluhan ini banyak menyebabkan disabilitas sosial bahkan fisik karena penderitanya akan merasa takut jika serangan panik ini muncul.
  • Gangguan obsesif atau kompulsif (OCD).
    Gangguan ini memiliki ciri khas pikiran obsesif, seperti rasa ketakutan yang tidak masuk akal, dan disertai dengan tindakan kompulsif. Contohnya mencuci tangan berulang kali untuk meringankan rasa cemas karena merasa kotor yang dihasilkan oleh pikiran. Pikiran ini sulit dikendalikan dan bersifat menetap dan berulang sehingga menimbulkan gangguan aktivitas atau perilaku yang dianggap aneh oleh orang lain. Beberapa kasus ekstrim yang diderita oleh penderita OCD yaitu mengunci pintu dan kemudian memeriksanya kembali hingga berkali-kali untuk memastikan bahwa pintu telah terkunci. Perilaku obsesif-kompulsif ini dapat menyebabkan penderitanya terlambat bekerja atau kadang tidak beraktivitas sama sekali karena merasa cemas berlebih jika dorongan untuk melakukan tindakan tersebut tidak diikuti.

Perlu diingat, gangguan kecemasan adalah gangguan mental yang sering menimbulkan disabilitas bagi penderitanya. Gangguan kecemasan tak jarang menyebabkan depresi, ide bunuh diri untuk menghindari rasa cemas berlebih, pikiran irasional, hingga penyalahgunaan obat atau minuman beralkohol untuk menghilangkan gejala. Gejala cemas disertai adanya gangguan persepsi atau paham, mood, keluhan menetap dan semakin berat tanpa sebab yang jelas adalah kondisi yang perlu segera ditangani.

Penanganan yang dapat dilakukan yaitu psikoterapi dengan salah satu metodenya yaitu CBT atau terapi perilaku kognitif, terapi relaksasi, dan perpaduan antara psikoterapi dan obat-obatan anxiolytic seperti obat penenang atau penghilang rasa cemas. Penggunaan obat-obatan penenang harus dengan resep dan pengawasan dokter.  Jika disalahgunakan, obat-obatan tersebut dapat menimbulkan keluhan atau gangguan perilaku lain yang dapat memperberat gangguan yang sudah dialami. Oleh karena itu, penanganan terhadap kondisi-kondisi tersebut adalah penanganan yang perlu dilakukan oleh tim ahli.

Jika Anda mengalami kecemasan atau anxiety, perubahan gaya hidup tertentu dapat meringankan gejala yang ditimbulkannya. Beberapa teknik untuk mengurangi kecemasan meliputi makan makanan bergizi seimbang dan sehat, membatasi konsumsi kafein dan alkohol, cukup tidur, bermeditasi, latihan pernapasan, berolahraga secara teratur, menulis catatan harian atau diary, mengenali beberapa faktor yang memicu stres/kecemasan Anda, dan berbicara dengan teman. Jadikanlah faktor pencetus rasa cemas sebagai hal yang positif agar Anda termotivasi untuk bekerja lebih baik atau memperbaiki diri. Jika faktor pencetus telah teratasi dan rasa cemas menetap atau justru semakin berat, maka Anda perlu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Obat Tidur dan Dampaknya Terhadap Kesehatan

Obat Tidur dan Dampaknya Terhadap Kesehatan

Tidur adalah kebutuhan alamiah setiap manusia karena baik untuk kesehatan tubuh, termasuk otak. Jika seseorang kurang tidur, performa bisa menurun dan rentan terkena penyakit. Demi mengatasi insomnia ada yang mengonsumsi obat tidur yang mengandung bahan kimia. Cara tersebut berbahaya dan dapat memberikan efek samping buruk pada tubuh. Itulah sebabnya tidur sangat penting bagi semua individu. Namun, ada juga orang yang memiliki masalah insomnia, alias susah tidur.

Obat tidur adalah jenis obat yang diresepkan oleh dokter sebagai pengobatan jangka pendek untuk masalah gangguan tidur. Penggunaan obat tidur wajib di bawah pengawasan dokter. Jika tidak dikonsumsi dengan bijak, obat tidur dapat membawa efek samping yang berbahaya, mulai dari gangguan ingatan, alergi, hingga ketergantungan. Anda mengalami gangguan tidur? Jangan terburu-buru mengonsumsi obat tidur untuk mengatasinya. Sebelum Anda memutuskan untuk menggunakannya, ada baiknya mengetahui apa saja efek samping yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan obat tidur.

Insomnia

Efek Samping Obat Tidur

Seperti halnya obat-obatan lain, obat tidur juga memiliki efek samping. Efek samping setiap obat tidur berbeda-beda tergantung jenisnya. Berikut beberapa efek samping yang umum terjadi:

  • Perubahan nafsu makan.
  • Berat badan bertambah.
  • Perubahan suasana hati (mood) atau perilaku.
  • Perubahan libido.
  • Gangguan pada ingatan dan tidak fokus.
  • Sensasi terbakar atau kesemutan pada kaki, lengan, tangan.
  • Diare.
  • Susah buang air besar atau kecil.
  • Susah menjaga keseimbangan.
  • Membuat anggota tubuh bergetar (tremor).
  • Sakit kepala.
  • Mulut atau tenggorokan kering.
  • Sering buang angin.
  • Mengantuk di siang hari.
  • Lemas.
  • Nyeri perut.
  • Mual.
  • Detak jantung tidak teratur.
  • Reaksi alergi parah yang disebut anafilaksis. Reaksi ini dapat meliputi angioedema, yaitu pembengkakan parah pada wajah.
  • Menimbulkan ketergantungan. Tanpa obat tidur, Anda menjadi merasa semakin sulit tidur. Bahkan aktivitas tidur bisa menjadi saat yang paling mencemaskan.

Pada kasus tertentu efek samping dapat menjadi parah seperti parasomnia, yaitu tingkah laku dan tindakan yang tidak dapat dikontrol. Orang yang mengalami parasomnia menjadi tidak sadar apa yang terjadi. Di tengah ketidaksadarannya, penderita dapat berjalan, makan, bahkan menelepon sambil tidur.

Yang Perlu Diperhatikan

Obat tidur juga dapat berbahaya bagi orang-orang dengan penyakit tertentu, misalnya asma. Obat tidur dapat membuat penderita asma sulit bernapas karena efek samping dari obat tidur dapat membuat seseorang bernapas lebih lambat dan pelan. Mereka yang memiliki tekanan darah tinggi, gangguan ginjal, serta riwayat kejang juga perlu waspada. Begitu pula wanita hamil dan menyusui, orang lanjut usia, serta orang yang sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat bereaksi dengan obat tidur.

Jika memang Anda perlu mengonsumsi obat tidur, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya:

  • Sebelum mengonsumsi obat tidur, ada baiknya periksakan diri terlebih dahulu ke dokter untuk mengetahui penyebab atau latar belakang terjadinya insomnia.
  • Obat tidur dianjurkan dikonsumsi 15 menit sebelum waktu tidur. Jika tidak, obat ini dapat membuat Anda kehilangan konsentrasi dan kesadaran, sehingga akan membahayakan Anda saat ber
  • Pastikan Anda membaca semua instruksi termasuk dosis yang tertera pada label, terutama pada bagian efek samping. Konsultasikan ke dokter jika ada informasi yang tidak Anda mengerti.
  • Jangan sekali-sekali mengonsumsi minuman keras bersamaan dengan obat tidur. Perpaduan obat tidur dan alkohol akan meningkatkan efek samping keduanya, dan dapat menyebabkan henti napas yang bisa berakibat fatal.
  • Anda juga tidak disarankan mengonsumsi jeruk Bali ataupun jus jeruk Bali saat mengonsumsi obat tidur. Buah ini berisiko meningkatkan dan mempertahankan kadar obat yang diserap pembuluh darah sehingga menyebabkan dosis berlebih.
  • Hindari mengonsumsi suatu jenis obat tidur yang baru pertama kalinya Anda pakai, bila di pagi harinya Anda akan menjalani sebuah kegiatan penting seperti wawancara kerja atau rapat besar. Anda tidak tahu bagaimana tubuh Anda akan bereaksi terhadap obat tersebut.
  • Beberapa jenis obat tidur memang hanya ditujukan untuk konsumsi jangka pendek, misalnya 10 hari. Maka, hindari mengonsumsi obat tidur dalam jangka waktu lebih lama dari yang direkomendasikan dokter Anda.
  • Penghentian konsumsi obat tidur memerlukan waktu penyesuaian. Terkadang insomnia dapat kembali muncul saat obat tidur berhenti digunakan. Konsultasikan ke dokter untuk menghentikan penggunaan obat tidur secara bertahap.

Segera periksakan diri ke dokter jika setelah mengonsumsi obat tidur, Anda mengalami nyeri dada, sulit bernapas, gangguan penglihatan, ruam, gatal, bengkak pada mata, wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan. Pada akhirnya, mengonsumsi obat tidur disarankan menjadi alternatif terakhir setelah menempuh cara-cara lain yang lebih aman untuk menangani insomnia.

Mengenal Bipolar

Mengenal Bipolar

Beberapa orang kerap mengalami perubahan suasana hati dan energi yang drastis dari posisi tertinggi hingga terendah yang disebut bipolar.

Apa itu bipolar disorder? Bipolar Disorder atau yang juga dikenal sebagai gangguan bipolar adalah suatu kondisi mental yang menyebabkan terjadinya perubahan mood yang ekstrem. Hal ini membuat orang dengan gangguan bipolar memiliki episode mood yang sangat bahagia (mania) atau sangat sedih (depresi). Sering kali, di antara perubahan keduanya, pasien tetap mengalami kondisi mood yang normal.

Sehingga gangguan bipolar bisa di simpulkan gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk).

Gangguan bipolar umumnya ditandai dengan perubahan emosi yang drastis, seperti:

  • Dari sangat bahagia menjadi sangat sedih.
  • Dari percaya diri menjadi pesimis.
  • Dari bersemangat menjadi malas beraktivitas.
  • Merasa terlalu bahagia dan bersemangat.
  • Sangat sensitif dan mudah tersinggung.

Setiap fase emosi dapat berlangsung dalam hitungan minggu atau bulan.

Penyebab Gangguan Bipolar

Penyebab pasti terjadinya gangguan bipolar belum diketahui. Namun, terdapat dugaan bahwa gangguan bipolar merupakan dampak dari adanya gangguan pada senyawa alami yang berfungsi menjaga fungsi otak (neurotransmitter). Gangguan pada neurotransmitter itu sendiri diduga dipicu oleh beberapa faktor, seperti:

  • Genetik
    Orangtua Anda atau anggota keluarga lain dapat memiliki kemungkinan memiliki bibit bipolar disorder yang diwariskan kepada anda.
  • Sosial
    Apa itu bipolar disorder menurut peneliti telah menemukan bahwa mungkin terdapat beberapa faktor sosial yang dapat menyebabkan timbulnya bipolar disorder. Faktor-faktor tersebut dapat berupa perasaan stres akan suatu kejadian trauma di masa kecil, rendahnya kepercayaan diri, atau mengalami suatu kehilangan yang tragis.
  • Lingkungan
    Faktor lingkungan memegang peranan penting pada kehidupan psikososial salah satunya menyebabkan stres. Kondisi ini bisa menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama.
  • Kondisi Otak
    Otak dapat melewati berbagai perubahan fisik yang memengaruhi tingkat bahan kimia otak (neurotransmitter) yang ada di dalamnya. Transmiter tersebut merupakan zat-zat yang memengaruhi mood.

Pengobatan Gangguan Bipolar

Perawatan bagi penderita bipolar disorder tidak dapat menyembuhkan penderita namun dapat menstabilkan perubahan mood Anda. Perawatan yang cocok bagi Anda akan ditentukan oleh psikiater (seorang dokter yang khusus menangani gangguan kondisi mental). Tergantung kondisi Anda, beberapa perawatan yang akan diberikan untuk gangguan bipolar adalah:

  • Terapi obat
    Dokter Anda dapat menganjurkan resep untuk menstabilkan mood anda. Obat tersebut dapat membantu mengurangi gejala yang Anda alami. Anda mungkin diharuskan untuk mengonsumsi obat yang diresepkan dalam jangka waktu yang lama untuk mencegah suatu episode depresi yang dapat menyebabkan bunuh diri. Obat-obatan yang ada biasanya tediri dari antidepresan, penstabil mood, antipsikotik, dan obat anti stress.
  • Konseling
    Anda mungkin akan perlu melakukan konseling untuk membicarakan kondisi Anda dan bagaimana cara melewati episode emosi yang Anda alami. Carilah suatu komunitas yang dapat membantu Anda dengan gangguan ini.
  • Perawatan penyalahgunaan zat tertentu
    Apabila Anda menderita suatu ketergantungan pada zat tertentu, sangat penting untuk menanggulangi ketergantungan tersebut, karena kondisi tersebut akan menyulitkan Anda dalam meringankan kondisi yang Anda alami.
  • Perawatan rumah sakit
    Dalam kasus yang lebih parah, Anda akan diharuskan untuk dirawat di rumah sakit untuk pengawasan berkala. Perawatan tersebut khususnya terjadi apabila Anda mengalami tanda-tandan ingin melakukan bunuh diri. Pada level ini, Anda bisa saja melukai diri Anda sendiri dan orang lain.

Tidak semua situasi sama, jadi lebih baik selalu diskusikan setiap keluhan yang Anda miliki kepada psikiater.

Gangguan bipolar yang tidak mendapatkan penanganan dapat menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan penderitanya, seperti:

  • Performa di sekolah atau tempat kerja memburuk
  • Kecanduan alkohol hingga penyalahgunaan NAPZA
  • Rusaknya hubungan sosial, misalnya dengan pasangan, kerabat, atau orang lain
  • Permasalahan keuangan (finansial)
  • Menimbulkan keinginan hingga percobaan bunuh diri

Hubungi Kami

Layanan Berkualitas Yang Anda Terima Akan Kami kemas ke dalam Terapi Klinis Hipnoterapi, NLP, EFT, Ditambah Konsultasi Psikologi, Yang Pada Akhirnya Menjadi All in One Solution   Hipnoterapi Jakarta  Yang berkualitas, yang akan membuat anda Tidak Perlu kemana-mana lagi.

Butuh Info Lebih Detail?